Forum Diskusi Shell.jpg

Shell Indonesia Berbagi Pengetahuan Pentingnya Bahan Bakar B30

Kamis, 27 Februari 2020 14:00 | Galih Pratama

OTONEWS - Shell Indonesia menggelar acara Shell ExpertConnect yang merupakan wadah kolaborasi dan forum diskusi tentang topik tren industri terkini beberapa waktu lalu. Melibatkan Pusat Penelitian Lemigas, forum mengangkat topik 'Maximizing Performance in B30 implementation Era ini dihadiri oleh lebih dari 160 mitra dan pelaku bisnis.

Andri Pratiwa, Deputy Director Shell Lubricants Indonesia mengatakan, Shell berkomitmen untuk terus berkolaborasi dengan berbagai pihak, terutama pelaku bisnis dalam berbagi informasi dan pengetahuan mengenai teknologi terkini, serta penerapannya.

“Dengan berkolaborasi, kita dapat bekerja sama mengantisipasi tantangan yang mungkin terjadi di masa depan, dan sekaligus turut memberikan kontribusi positif terhadap kemajuan ilmu dan teknologi di Indonesia,” kata Andri dalam siaran pers yang diterima Otopedia, Kamis (27/2/2020).

Mohammad Rachman Hidayat, Shell Asia Pacific Product App Specialist yang juga hadir dalam forum tersebut memaparkan tantangan-tantangan yang dihadapi pelaku bisnis yang menggunakan B30 dibanding dengan bahan bakar konvensional. Menurutnya, secara umum B30 berbasis POME (Palm Oil Methyl Ester) sangat mempengaruhi sistem bahan bakar dan pelumasan.

“Dari sisi nilai korosi pada temperatur tinggi, POME yang dipakai di Indonesia memiliki tingkat keasaman yang rendah dibandingkan dengan RME (Rapeseed Methyl Ester) yang biasa digunakan di Eropa,” jelasnya.

[Baca Juga: Tahun Depan Seluruh SPBU Pertamina Sediakan BBM Biodiesel B30]

Lebih jauh dia menjelaskan, berdasarkan pengalaman dan data Shell, pelumas yang memiliki klasifikasi mutu oil mesin API Service CI-4 terbukti mampu mengatasi bahan bakar B30 atau lebih. Hal ini disebabkan API CI-4 ini memiliki sifat soot handling yang lebih baik dibanding klasifikasi API Service di bawahnya.

“Klasifikasi CI-4 juga compatible dengan mesin dengan standar emisi EURO IV (non-DPF) yang akan segera diterapkan di Indonesia. Karena B30 memiliki kandungan sulfur yang lebih rendah, sehingga memungkinkan untuk memperpanjang oil drain interval,” jelas Rahman.

Kesiapan implementasi B30 ini juga dilakukan oleh produsen HINO, di mana mereka melakukan inovasi pada fuel system truck dan bus dengan memperbesar kapasitas fuel filter serta menyiapkan option fuel strainer dan mengubah bahan pelapis pada fuel tank dan piping untuk meningkatkan daya tahan kendaraan terhadap penggunaan B30 di unit truk dan bus HINO terbaru.

Sementara Nanang Hermawan, Head of Fuel and Aviation Researcher Group Lemigas mengatakan bahwa pemanfaatan B30 telah melalui serangkaian pengujian. Mulai dari pengujian fisika kimia, performance test engine, uji kompatibilitas material dan pengujian stabilitas penyimpanan. “B30 sudah siap untuk diimplementasikan mendukung regulasi pemerintah,” jelasnya.

[Baca Juga: Tanda Bahan Bakar Kurang Berkualitas, Akibatnya Bikin Ngeri]

Sebagai penutup forum, Bambang Wahyudi, VP Technical Shell Lubricants Indonesia mengharapkan akan lebih banyak lagi forum seperti Shell ExpertConnect yang memberikan kesempatan bagi pelaku bisnis untuk memahami informasi-informasi teknis yang didukung oleh data ilmiah dan dapat membantu peningkatan produktivitas.

“Forum diskusi seperti ini juga dapat membantu pelaku bisnis dalam mengimplementasikan kebijakan-kebijakan yang diwajibkan untuk industri dan meminimalkan dampak negatif dari penyebaran informasi yang tidak didukung oleh data ilmiah,” tutup Bambang.