Saling Hormati Pengguna Jalan, Berikut Etika Bunyikan Klakson Mobil.jpg

Saling Hormati Pengguna Jalan, Berikut Etika Bunyikan Klakson Mobil

Sabtu, 26 Januari 2019 15:00 | Inggil Yustiar

Di kota besar seperti Jakarta yang terkenal macetnya membuat para pengendara pasti ingin cepat-cepat sampai di tempat tujuan. Tidak sedikit pula seringkali terdengar bunyi klakson yang mampu membuat Anda emosi sendiri. Dilansir dari hipwee.com seringnya mendengar bunyi klakson, mampu membuat pendengaran telinga semakin berkurang, bahkan ada sebutan polusi suara.

Klakson pada setiap kendaraan sendiri diciptakan sebagai alat komunikasi bagi sesama pengguna jalan. Setiap kendaraan pasti sudah dibekali dengan klakson. Namun bukan berarti sebagai pengguna jalan Anda bisa membunyikan klakson sesuka hati. Tanpa Anda sadari ada etika tertulis soal membunyikan klakson yang perlu diketahui dan dipatuhi oleh semua pengguna jalan. Dilansir dari otoasia.com seperti yang tertulis pada laman resmi Kementerian Perhubungan Republik Indonesia.

[Baca Juga: Solusi Pedal Gas Mobil yang Tersangkut]

“Agar tidak menimbulkan polusi suara dan diterima dengan bagus oleh indera dengan manusia, kekuatan bunyinya pun harus sesuai dengan aturan yang paling rendah yaitu 83 desibel dan paling tinggi 118 desibel,” demikian tertulis dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 Pasal 69.

Adanya undang-undang yang tertulis dan telah disahkan oleh pemerintah. Setidaknya mampu membuat pengguna jalan tidak sembarang membunyikan klakson. Pada dasarnya klakson sangat berfungsi dalam kondis-kondisi tertentu, seperti untuk memberitahu pengguna jalan bahwa ada kendaraan lain yang sedang melintas.

Mengutip dari laman resmi Suzuki Indonesia, jumlah bunyi klakson sendiri memiliki arti masing-masing. Membunyikan klakson secara sembarang dan secara sengaja, mampu memancing emosi pengendara lain, sehingga akan memicu sebuah keributan di jalan raya.

Saling Hormati Pengguna Jalan, Berikut Etika Bunyikan Klakson Mobil.jpg

“Bunyi klakson juga mengandung arti. Misalnya membunyikan klakson sekali dianggap sebagai sapaan, dibunyikan dua kali seperti panggilan atau meminta perhatian atau bahkan sebuah ucapan terima kasih saat Anda menyalip kendaraan lain,” ujar Jusri Palubuhu, pendiri dan instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) seperti dilansir dari gridoto.com

Jusri menambahkan, penggunaan klaskson yang salah, bisa memancing emosi pengendara lain. Selain berisik membunyikan klakson secara panjang, juga bisa membuat pengendara lain yang ada di sekitar Anda juga tidak senang diperlakukan seperti itu. Di mana ujung-ujungnya akan menjadi sebuah keributan di jalan raya.

Bahkan di beberapa tempat tertentu pengendara dilarang membunyikan klakson, di antaranya saat berada di depan rumah ibadah, lingkungan sekolah atau melewati sebuah lingkungan yang berada di sebuah perumahan.

Bunyi suara klakson sekali dan pendek adalah bentuk permintaan yang sopan ketika Anda mengingatkan pengendara di depan untuk memberikan ruang yang cukup untuk mendahului. Bisa juga mengingatkan ketika sedang berhenti di lampu merah dan lampu telah berganti menjadi hijau, namun pengendara di depan Anda belum jalan.

Saling Hormati Pengguna Jalan, Berikut Etika Bunyikan Klakson Mobil.jpg

Kemudian bunyi klakson dua kali dengan suara pendek, bisa menjadi bentuk peringatan yang sopan ketika suara klakson pertama dihiraukan. Bunyi klakson gaya kedua ini dapat Anda gunakan sebaga peringatan lanjut atau bisa juga digunakan ketika ada kendaraan di depan Anda tiba-tiba mundur saat lampu merah.

Apabila jenis klakson pertama dan kedua masih tidak dihiraukan oleh pengemudi di depan Anda, maka jenis klakson ketiga ini bisa Anda lakukan dengan menekan klakson secara pendek dan berulang kali, adapula bunyi suara panjang dan berulang kali. Hal tersebut untuk memberikan peringatan terakhir kali kepada pengemudi di depan Anda supaya memberi ruang atau segera jalan.