Mengenal Fitur Teknologi Keamanan Immobilizer

Mengenal Fitur Teknologi Keamanan Immobilizer

Senin, 4 Februari 2019 9:00 | Galih Pratama

Aksi pencurian kendaraan dewasa ini semakin merajalela. Untuk mengatasi hal tersebut, beberapa pabrikan mobil kini menyematkan beberapa teknologi keamanan baru yang cukup canggih. Salah satu sistem keamanan yang lazim digunakan untuk mencegah dari aksi pencurian adalah alarm.

Selain alarm, kini muncul teknologi untuk memperkokoh pertahanan kendaraan dari pencurian. Sistem engine immobilizer namanya. Dilansir dari jalopnik.com pada Senin (5/11/2018), fitur keamanan ini telah ditemukan dan dipatenkan pada tahun 1919 oleh St. George Evans dan Edward Bikenbuel asal Portland, Amerika Serikat.

Namun baru pada tahun 1998-an, fitur keamanan ini mulai diterapkan di beberapa negara seperti Jerman, Inggris, dan Finlandia. Ketiga negara tersebut mewajibkan sistem keamanan ini sebagai fitur standar pada mobil baru yang diproduksi.

[Baca Juga: Immobilizer]

Sayangnya, ketika fitur keamanan ini diaplikasikan, banyak orang justru lebih mengenal sistem keamanan alarm dibanding dengan immobilizer. Seperti diketahui, alarm mobil adalah sistem keamanan yang mengeluarkan bunyi ketika pintu mobil dipaksa dibuka. Sistem keamanan alarm ini sangat lazim kita jumpai di sejumlah mobil.

Lalu bagaimana kerja dari sistem immobilizer? Immobilizer adalah sistem keamanan teknologi yang disematkan pada kendaraan. Kunci mobil sudah disetel dengan kode khusus. Kode khusus itu nantinya akan terkoneksi penerima sinyal yang telah disematkan di mobil. Penerima sinyal tersebut bertujuan menerima dan mencocokkan kode kunci yang ada di dalam mobil.

Dengan kata lain, sistem keamanan ini bertujuan mencegah mesin menyala, kecuali dengan kunci asli dan sudah disetel dengan kode khusus. Sistem ini membutuhkan Engine Control Modul (ECM) atau Powertrain Control Module (PCM). Sedangkan sistem kerjanya dimulai dari saat kunci dimasukkan ke dalam ignition switch, lalu diputar ke posisi ON.

Saat itu, Immobilizer Control Unit Receiver akan mengirimkan sinyal ke transponder chip yang tertanam dalam kunci. Lalu mengirim sinyal kembali yang berisi kode melalui Immobilizer Control Unit Receiver untuk kemudian disalurkan ke ECM atau PCM.

Jadi, kunci mobil yang berbeda tidak akan dapat membalas sinyal kepada ECM atau PCM. Secara otomatis mesin tidak bisa dinyalakan atau diaktifkan. Meski begitu, fungsi elektronik lainnya seperti klakson, lampu, hingga radio bisa berfungsi dengan normal.

Di beberapa mobil tertentu, ada pabrikan yang menyediakan indikator sistem ini di panel instrument. Sehingga jika kunci tak cocok, maka indikator akan berkedip dan umumnya ditandai dengan nyala warna merah. Sebalikya, jika kunci sesuai dengan kode dan sinyal, maka indikator berwarna hijau.

Meski berteknologi canggih, sistem keamanan immobilizer juga tak luput dari beberapa kelemahan. Seperti dilansir dari viva.co.id pada Selasa (30/10/2018), risikonya sangat tinggi jika kunci immobilizer hilang. Sebab, kunci tak bisa diduplikat secara sembarang, lantaran harus tersambung dengan ECM mobil.

[Baca Juga: Engine Control Unit]

Dari sisi harga pun, bisa dibilang komponen sistem immobilizer ini jauh lebih mahal dibanding dengan kunci biasa. Sebab jika terjadi kerusakan pada salah satu komponen immobilizer, pemilik mobil harus mengganti secara seluruh rangkaiannya. Rangkaian ini meliputi kunci, rumah kunci, dan ECM mobil. Terlebih jika kunci hilang atau patah, tak ada solusi lain selain mengganti satu paket sistem immobilizer.

Hal inilah yang menjadikan mengapa mobil baru yang dilengkapi dengan sistem keamanan immobilizer harganya lebih mahal. Bahkan hanya beberapa tipe mobil tertentu yang disematkan sistem immobilizer, sehingga mobil ini belum bisa dijangkau oleh semua kalangan. Harga yang dikeluarkan tentunya sebanding dengan manfaat yang didapat. Dengan sistem ­immobilizer, diyakini mobil kesayangan Anda akan lebih terjaga keamanannya.