Formula E.jpg

Menakar Untung-Rugi Adanya Formula E di Jakarta

Jumat, 16 Agustus 2019 15:00 | Galih Pratama

Jakarta berpeluang besar menjadi salah satu tuan rumah Formula E pada pertengahan 2020. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah membawa kabar dan memastikan bahwa Jakarta dipastikan akan menjadi tuan rumah ajang balap mobil listrik tersebut.

Formula E merupakan ajang balap mobil listrik bertaraf internasional. Ini menjadi sarana yang baik bagi Jakarta untuk menyedot perhatian mata dunia. Namun, untuk menggelar ajang ini tentunya tak semudah membalikkan tangan.

Terutama bagi Jakarta, ada modal yang kelewat besar yang harus dikeluarkan. Kondisi ini disadari betul oleh Anies. Orang nomor satu di Jakarta ini pun langsung mengusulkan anggaran.

Melansir republika.co.id, Jumat (16/8/2019), Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta sudah mengusulkan anggaran sebanyak 20,79 juta poundsterling atau sebesar Rp360 miliar dalam APBD-P 2019 yang telah disepakati sejak Selasa (13/8/2019).

[Baca Juga: Jadi Tuan Rumah Formula E, DKI Jakarta Setor Rp345,9 Miliar]

Kemarin, Pemprov DKI Jakarta mengajukan Rp900 miliar sebagai dana tambahan untuk menggelar Formula E dalam pembahasan Kebijakan Umum Anggaran dan Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUA-PPAS) untuk Rancangan APBD tahun 2020.

Meski dana yang dikeluarkan sangat besar, Anies percaya diri bahwa ajang ini memiliki potensi keuntungan ekonomi senilai Rp1,2 trilun dari perhelatan Formula E.

Sebab, diperkirakan bakal ada banyak penonton dari luar negeri ataupun dalam negeri yang tentu akan menghasilkan sebuah profit. Akibat banyaknya orang yang berkumpul, maka perekonomian di bidang transportasi dan pariwisata bakal kecipratan.

Di balik keuntungan tersebut, ada sejumlah kerugian yang harus siap dihadapi Jakarta dalam penyelenggaraan Formula E. Salah satu negara yang bisa menjadi pembelajaran bagi Jakarta adalah Montreal, Kanada.

Mereka tidak mampu menggandeng sponsor, pemerintah Montreal harus merogoh kocek sebesar 24 juta euro untuk menyelenggarakan Formula E musim 2016-2017. Hal ini juga tidak diikuti dengan rencana bisnis yang matang, Montreal akhirnya mengalami kerugian besar dan memutuskan untuk tidak melanjutkan kontrak dengan penyelenggara Formula E yang sejatinya berakhir pada musim 2018-2019.

Hal tersebut tentunya sudah menjadi risiko setiap penyelenggaraan event bertaraf internasional. Terlepas dari kerugian tersebut, pengalaman Kanada bisa menjadi pembelajaran bagi Jakarta dalam menggelar Formula E.

[Baca Juga: Perpres Mobil Listrik Resmi Diundangkan, Ini Rincian Isinya]

Formula E

Formula E pertama kali dimulai pada September 2014 di sirkuit zona hijau Olimpiade Beijing, Tiongkok. Pada ahkir tahun ini, Formula E akan memasuki musim kelima. Berbeda dengan Formula 1, Formula E menggunakan kendaraan berbahan bakar listrik yang ramah lingkungan. Kecepatan maksimumnya hanya mencapai 225 km/jam.

Perhelatan Formula E berlangsung di hampir seluruh benua, khusunya Eropa. Namun Formula E juga pernah menyambangi negara-negara di Asia. Selain Tiongkok, beberapa negara lainnya di Asia yang pernah menjadi tuan rumah Formula E adalah Arab Saudi, Hongkong, dan Malaysia. Tahun depan, dipastikan Jakarta, Indonesia akan menjadi tuan rumah Formula E.